Hak Bertetangga: Bukti Kesempurnaan Iman

Jum'at, 16 Oktober 2026 · Masjid Nurul Huda, Jemaras Kidul – Klangenan

Khutbah Pertama

الحمد لله الذي أمر بالإحسان، ونهى عن الظلم والعدوان، وأوصى بالجار، وجعل حسن معاملته من دلائل الإيمان. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، خير من علّم الأمة مكارم الأخلاق، صلى الله وسلم وبارك عليه، وعلى آله وأصحابه، ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين

أما بعد، فيا عباد الله، اتقوا الله تعالى حق التقوى، وراقبوه في السر والنجوى، واعلموا أن من أعظم ما يزين حياة المسلم حسنُ خلقه مع من حوله، ولا سيما مع جيرانه

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Setiap orang tentu ingin hidup di lingkungan yang aman, damai, dan penuh kepedulian. Kita ingin rumah kita dihormati, keluarga kita tidak diganggu, rahasia kita tidak disebarkan, dan ketika tertimpa kesulitan ada orang yang bersedia menolong.

Akan tetapi, sebelum menuntut semua itu dari orang lain, Islam mengajarkan kita untuk bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kita menjadi tetangga yang baik?

Tetangga adalah orang yang paling dekat merasakan dampak akhlak kita. Bisa jadi orang yang jauh mengenal kita sebagai orang yang rajin beribadah, baik dalam berbicara, atau dermawan dalam membantu. Namun, tetangga mengetahui keadaan kita secara lebih dekat. Mereka mengetahui apakah lisan kita menyakiti, apakah suara dan aktivitas kita mengganggu, apakah kita peduli ketika mereka mengalami kesulitan, dan apakah kehadiran kita membawa ketenangan atau justru masalah.

Karena itulah Allah Ta‘ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ

“Beribadahlah kepada Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga yang dekat, dan tetangga yang jauh.” (QS. An-Nisā’: 36)

Dalam ayat tersebut Allah menyebut perintah berbuat baik kepada tetangga setelah menyebut ibadah kepada-Nya, kedua orang tua, kerabat, yatim, dan orang miskin. Ini menunjukkan bahwa hak tetangga bukan perkara remeh dan bukan sekadar adat sopan santun.

Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ

“Jibril terus-menerus berpesan kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga, sampai aku mengira bahwa tetangga akan diberi hak waris.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Jibril berkali-kali membawa wasiat tentang tetangga kepada Nabi ﷺ, sampai Nabi ﷺ mengira bahwa tetangga akan mendapatkan bagian dari harta warisan. Demikian besarnya perhatian Islam terhadap hubungan bertetangga.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Hadis pertama yang menjadi pokok pembahasan kita, Nabi ﷺ bersabda:

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai untuk tetangganya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Makna hadis ini bukan bahwa seseorang langsung keluar dari Islam apabila ia belum memiliki sifat tersebut. Akan tetapi, imannya belum mencapai kesempurnaan yang wajib. Seorang beriman semestinya memiliki hati yang bersih: ia menginginkan kebaikan bagi tetangganya sebagaimana ia menginginkan kebaikan itu bagi dirinya sendiri.

Jika kita ingin rumah kita aman, janganlah kita menjadi sumber gangguan bagi rumah tetangga. Jika kita ingin keluarga kita dihormati, hormatilah keluarga tetangga. Jika kita ingin dibantu ketika sakit atau kesulitan, jangan berat untuk membantu tetangga. Jika kita tidak suka rahasia kita dibicarakan, jangan pula kita menyebarkan cerita dan kekurangan orang lain.

Dalam riwayat lain Nabi ﷺ bersabda:

حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مِنَ الْخَيْرِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Hingga ia mencintai bagi saudaranya berupa kebaikan apa yang ia cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. An-Nasā’i)

Kebaikan itu meliputi ketaatan kepada Allah, ilmu yang bermanfaat, kesehatan, keamanan, rezeki yang halal, serta berbagai kebaikan dunia dan akhirat. Memang, jiwa yang sempit dan dipenuhi dengki akan merasa berat melihat orang lain memperoleh nikmat. Namun, hati yang selamat akan bahagia ketika melihat kebaikan tersebar.

Oleh sebab itu, hak tetangga bukan hanya menahan diri dari gangguan. Seorang Muslim yang baik juga berusaha memulai kebaikan: memberi salam ketika bertemu, menjenguk ketika sakit, menghibur ketika tertimpa musibah, mengucapkan selamat ketika mendapat kebahagiaan, membantu sesuai kemampuan, menjaga rahasianya, serta memaafkan kekeliruannya.

Kita tidak harus menunggu memiliki banyak harta untuk berbuat baik kepada tetangga. Senyum yang tulus, salam yang hangat, menyingkirkan gangguan dari jalan, atau menawarkan bantuan kecil terkadang sangat besar nilainya di sisi Allah dan sangat berarti bagi mereka.

Jamaah rahimakumullah,

Para ulama menjelaskan bahwa tetangga itu mencakup tetangga Muslim maupun non-Muslim; kerabat maupun bukan kerabat; orang yang baik kepada kita maupun orang yang akhlaknya kurang baik kepada kita.

Tetangga non-Muslim memiliki hak sebagai tetangga. Tetangga Muslim memiliki hak bertetangga sekaligus hak persaudaraan Islam. Jika ia juga kerabat, maka padanya terkumpul tiga hak: hak bertetangga, hak Islam, dan hak kekerabatan.

Maka, berbuat baik kepada tetangga tidak boleh bergantung pada untung-rugi dunia. Kita tetap wajib adil, beradab, dan menjaga diri dari menyakiti mereka. Adapun bila kita melihat kesalahan atau kemaksiatan, kita menasihatinya dengan cara yang benar, bijak, dan tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Di antara bentuk pelanggaran paling besar terhadap tetangga ialah mengkhianati kehormatannya. Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ. قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ. قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ

“Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar?” Beliau menjawab, “Engkau menjadikan tandingan bagi Allah, padahal Dia yang menciptakanmu.” Aku bertanya, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Engkau membunuh anakmu karena takut ia makan bersamamu.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa?” Beliau menjawab, “Engkau berzina dengan istri tetanggamu.”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini memuat tiga dosa besar: syirik kepada Allah, membunuh jiwa tanpa hak—terlebih anak sendiri karena takut miskin—dan berzina dengan istri tetangga.

Mengapa zina dengan istri tetangga disebut secara khusus? Karena padanya terkumpul kejahatan zina dan pengkhianatan terhadap tetangga. Orang yang seharusnya dijaga haknya justru dikhianati. Rumah yang seharusnya dijaga kehormatannya justru dirusak. Tetangga seharusnya merasa aman dari kita, bukan merasa takut kepada kita.

Karena itu, menjaga hak tetangga juga berarti menjaga pandangan, menjaga pergaulan, menjaga percakapan, dan menjaga batas-batas syariat. Jangan mengintip rumahnya. Jangan mengikuti apa yang dibawanya ke rumah. Jangan mencari-cari kesalahan keluarganya. Jangan menyebarkan masalah rumah tangganya. Jangan sampai kedekatan rumah berubah menjadi pintu bagi setan untuk merusak kehormatan dan hubungan keluarga.

Hadirin rahimakumullah,

Kerusakan hubungan bertetangga terkadang tidak dimulai dari dosa besar, melainkan dari perkara yang dianggap kecil: suara yang berlebihan, kendaraan yang menghalangi jalan, sampah yang dibuang sembarangan, anak-anak yang dibiarkan mengganggu, kata-kata sindiran, atau kebiasaan membicarakan kekurangan tetangga.

Maka marilah kita menahan diri dan bermuhasabah. Jangan sampai kita rajin hadir di masjid, tetapi tetangga justru tidak merasa aman dari lisan dan perbuatan kita. Jangan sampai kita ingin dihormati, tetapi kita tidak menghormati hak orang lain.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang berakhlak mulia, menjaga hak tetangga, serta menjadi sebab turunnya kedamaian dan keberkahan di lingkungan kita.

أقول قولي هذا، وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب، فاستغفروه، إنه هو الغفور الرحيم

Khutbah Kedua

الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه كما يحب ربنا ويرضى. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله، صلى الله وسلم وبارك عليه وعلى آله وأصحابه أجمعين

أما بعد، فيا عباد الله، اتقوا الله تعالى

Jamaah Jumat rahimakumullah, menjaga hubungan baik dengan tetangga juga berarti menjaga lisan dan segera memperbaiki perselisihan. Rasulullah ﷺ bersabda:

مِنَ الْكَبَائِرِ شَتْمُ الرَّجُلِ وَالِدَيْهِ». قِيلَ: وَهَلْ يَسُبُّ الرَّجُلُ وَالِدَيْهِ؟ قَالَ: «نَعَمْ، يَسُبُّ أَبَا الرَّجُلِ فَيَسُبُّ أَبَاهُ، وَيَسُبُّ أُمَّهُ فَيَسُبُّ أُمَّهُ

“Termasuk dosa besar ialah seseorang mencaci kedua orang tuanya.” Para sahabat bertanya, “Apakah seseorang mencaci kedua orang tuanya?” Beliau menjawab, “Ya. Ia mencaci ayah seseorang, lalu orang itu mencaci ayahnya; ia mencaci ibu seseorang, lalu orang itu mencaci ibunya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa seseorang dapat menanggung dosa karena menjadi sebab keburukan, walaupun ia tidak melakukannya secara langsung. Maka, hindarilah cacian, ejekan, sindiran, dan segala ucapan yang memancing permusuhan dengan tetangga atau siapa pun.

Jika sudah terjadi kesalahpahaman, jangan biarkan permusuhan memanjang. Rasulullah ﷺ bersabda:

«لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لَيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ فَيُعْرِضُ هَذَا، وَيُعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ»

“Tidak halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam. Keduanya bertemu, lalu yang ini berpaling dan yang itu pun berpaling. Yang terbaik di antara keduanya adalah yang memulai salam.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Memulai salam dan perdamaian bukan tanda kalah. Itulah tanda orang yang mampu mengalahkan ego dan hawa nafsunya. Allah Ta‘ala berfirman:

ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

“Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka orang yang antara engkau dan dia ada permusuhan seakan-akan menjadi teman yang sangat setia.” (QS. Fuṣṣilat: 34)

Jamaah Jumat rahimakumullah, sebelum kita menutup khutbah ini dengan doa, marilah kita memperbanyak selawat kepada Nabi kita Muhammad ﷺ. Allah Ta‘ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kalian untuknya dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan.” (QS. Al-Ahzāb: 56)

اللهم صل وسلم وبارك على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين

اللهم أصلح أحوالنا، وأصلح ذات بيننا، وألّف بين قلوبنا، واجعلنا من المحسنين إلى جيراننا وإخواننا

اللهم اغفر للمسلمين والمسلمات، والمؤمنين والمؤمنات، الأحياء منهم والأموات

اللهم آت نفوسنا تقواها، وزكها أنت خير من زكاها، أنت وليها ومولاها

ربنا آتنا في الدنيا حسنة، وفي الآخرة حسنة، وقنا عذاب النار

عباد الله، إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى، وينهى عن الفحشاء والمنكر والبغي، يعظكم لعلكم تذكرون

فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون

Disusun oleh: Sucipto, S.Ag.
SMPIT Irsyadur Rahman, Perumahan Pilang Sari, Kedawung, Kab. Cirebon

Referensi Penyusunan

  1. Ibnu Hajar al-‘Asqalani. Bulūgh al-Marām min Adillat al-Aḥkām, hadis nomor 1269–1272.
  2. Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam. Taudhīḥ al-Aḥkām min Bulūgh al-Marām. Kuala Terengganu, Malaysia: Dār ‘Umar Mukhtār, 2024, jilid 4, hlm. 541–546.